Blog yang Lagi Belajar

Napak Tilas Perjalanan Karier Evie Tamala

Posted on: November 17, 2009

E-mail

 

evitamala3.jpgTak mudah menjadi seorang artis terkenal yang dipuja banyak penggemar. Bakat, ketekunan, kesabaran dan pantang menyerah merupakan modal utamanya. Hal itulah yang dulu dimiliki Evie Tamala, saat mulai meniti karier mewujudkan impiannya menjadi pedangdut terkenal seperti sekarang ini.

evitamala2.jpgMeski bakat dan talenta Evie Tamala sebagi penyanyi sudah eksis sejak dirinya duduk di bangku SD kelas dua, namun hal tersebut tidak lantas membuatnya mudah untuk menjadi seorang penyanyi terkenal. Apalagi Evie (panggilan pendeknya) ketika kecil tinggal di sebuah desa, yang menambah mempersulit menjadi penyanyi profesional. Meski demikian hal itu tidak membuatnya patah semangat, untuk mewujudkan impiannya itu, pada tahun 1980 ia mencoba bergabung dengan sebuah grup Orkes Melayu (OM) Sinar Remaja, yang ada di kota Tasikmalaya. Sebagai biduanita Orkes Melayu yang ada di daerah, maka panggung-panggung hajatan (kenduri) warga atau Agustusan menjadi menu keseharian wanita pemilik nama asli Cucu Suryaningsih ini. “Job saya waktu itu menyanyi pada pesta kenduri, baik pernikahan maupun sunatan. Para penggemar saat itu memanggil saya Uce Arfina,” kenang Evei, seraya matanya menerawang teringat akan masa lalunya. Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan. Setelah panggung-panggung hajatan warga menjadi menu kesehariannya, bersama OM Sinar Remaja ia lantas berkesempatan mengisi sebuah acara di kawasan Bandung, Jawa Barat. Nasib baik seolah sedang menyebelahinya, suaranya yang merdu saat memdengdangkan sebuah lagu dangdut, membuat Muchtar B, seorang pencipta dan juga produser yang kebetulan ketika itu sedang hadir menjadi kepincut. Kemudian, wanita  yang kini kerap mengenakan kerudung itu direkrutnya untuk masuk dapur rekaman, namun sayang hasil rekamannya mengecewakan. Bahkan kasetnya saja tidak beredar di pasaran. Sungguh malang nasib penyanyi pedesaan tersebut. Rasa kecewa Evie Tamala bertambah ketika dia ditolak untuk tampil dalam acara ‘Aneka Ria Safari,’ salah satu program acara hiburan di TVRI, lantaran namanya kurang begitu komersial. “Waktu itu saya menggunakan nama Uce Arifina, karena menurut pordusernya nama tersebut kurang komersil, saya akhirnya ditolak,” ungkap wanita kelahiran Tasikmalaya 23 Juni 1969 ini. Penolakan tersebut sempat membuat hati Evie pesimis akan masa depannya yang sudah dirintis dengan susah payah. Namun sebagai orang yang pertama kali mengajak Evie masuk dapur rekaman, Muchtar B merasa bertanggung jawab.

Dukungan serta motifasi untuk tetap semangat, kemudian dia mencoba kembali. Karena kegagalan itu adalah sebuah sukses yang tertunda. Alhasil semangat yang dimiliki Evie pada tahun 1988, berhasil menelorkan album keduanya, dengan lagu ‘Tang Ting Tong Der.’ Ciptaan Muchtar B, direkam di atas pita MSC Records.

Sepertinya usaha Evie kembali sia-sia, karena dengan peluncuran album keduanya tersebut, belum juga berhasil mengangkat nama Evie Tamala di belantika musik dangdut. Setahun kemudian Evie mencoba kembali untuk meluncurkan album ketiganya dengan judul ‘Dokter Cinta.’ Hasilnya, lagu tersebut lar is di pasaran dan membuat nama Evie Tamala terkenal dimana-mana. Ada yang bilang itu karena video klipnya menyertakan Doyok yang bertingkah jenaka dengan keluwesan tubuhnya. “Saya merasa bersyukur dengan larisnya album ketiga saya, bahkan saya bisa membeli mobil dari hasil penjualanka set

tersebut. Memang semua itu membutuhkan proses, dan penuh per juangan yang mengharu birukan,” Kata si bungsu dari 6 bersaudara ini.

Kegiatan Sosial

Perjalanan karir Evie memang berlikuliku, dari mulai sebagai penyanyi kelas kampong hingga sebagai bintang dangdut papan atas. bahkan dirinya belakangan ini disebut-sebut sebagai generasi penerus dari Elvy Sukaesih, Camelia Malik maupun Rita Sugiarto. Di tengah kesuksesannya meniti karier, akhir-akhir ini ia merasa resah melihat kenyataan yang ada, bahwa musik yang telah mengharumkan namanya sedang terpuruk .

Menurutnya, sebagai salah satu faktor pemicunya merebaknya pembajakkan terhadap lagu-lagu dangdut. “Saya pr ihat in dengan pembajakkan musik yang ada d imana -mana, dan sangat meresahkan. Sepertinya para penegak hukum tidak serius dalam menangani masalah pembajakkan, para pelaku pembajakkan seharusnya ditindak dengan tegas terutama bos dan para pemi l ik modalnya. Tapi kenyataannya, mereka masih leluasa melakukan aksinya yang merugikan orang lain,” tegas penyuka warna merah itu dengan nada agak tinggi.evitamala1.jpg

Dengan kondisi dangdut yang sedang terpuruk, wanita berkulit putih ini lebih memilih menunggu hingga kondisinya membaik kembali. Ia juga tidak terlalu menggebu-gebu untuk menelorkan album baru, untuk sementara waktu. “Saya belum ada rencana untuk merilis album baru. Saat ini, saya sedang mendalami religi dan aktif dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan. Seper ti aktif di majeli ta’lim, menghadiri acara pengajian hingga menerima sumbangan untuk menghibur saudara – saudara kita yang kurang beruntung di daerah Jawa Barat,” ungkapnya. Keterlibatannya pada kegiatan social dan keagamaan, juga dilandasi oleh kesadarannya setelah bertahun-tahun menyelami dunia entertain yang penuh dengan segala macam gemerlapnya, yang kadang membuat dirinya jauh dari sang pencipta. Satu hal lagi terang Evie, kehidupannya selama ini yang bergelimang harta plus popularitas, tidaklah cukup membuat bathinnya tenteram dan damai, Dan saat itulah dirinya tersadar bahwa apa yang telah diraihnya adalah semu. “Saat ini saya lebih merasakan ketenangan dengan menghadiri acara kerohanian serta kegiatan sosial lainnya. Untuk sekarang dan ke depan, saya akan berupaya sekuat mungkin agar kegiatan panggung dan agama harus seiring dan sejalan,” pungkasnya seraya mengakhiri percakapan*Rus.

Napak Tilas Perjalanan Karier Evie Tamala Print E-mail

 

evitamala3.jpgTak mudah menjadi seorang artis terkenal yang dipuja banyak penggemar. Bakat, ketekunan, kesabaran dan pantang menyerah merupakan modal utamanya. Hal itulah yang dulu dimiliki Evie Tamala, saat mulai meniti karier mewujudkan impiannya menjadi pedangdut terkenal seperti sekarang ini.

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

evitamala2.jpgMeski bakat dan talenta Evie Tamala sebagi penyanyi sudah eksis sejak dirinya duduk di bangku SD kelas dua, namun hal tersebut tidak lantas membuatnya mudah untuk menjadi seorang penyanyi terkenal. Apalagi Evie (panggilan pendeknya) ketika kecil tinggal di sebuah desa, yang menambah mempersulit menjadi penyanyi profesional. Meski demikian hal itu tidak membuatnya patah semangat, untuk mewujudkan impiannya itu, pada tahun 1980 ia mencoba bergabung dengan sebuah grup Orkes Melayu (OM) Sinar Remaja, yang ada di kota Tasikmalaya. Sebagai biduanita Orkes Melayu yang ada di daerah, maka panggung-panggung hajatan (kenduri) warga atau Agustusan menjadi menu keseharian wanita pemilik nama asli Cucu Suryaningsih ini. “Job saya waktu itu menyanyi pada pesta kenduri, baik pernikahan maupun sunatan. Para penggemar saat itu memanggil saya Uce Arfina,” kenang Evei, seraya matanya menerawang teringat akan masa lalunya. Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan. Setelah panggung-panggung hajatan warga menjadi menu kesehariannya, bersama OM Sinar Remaja ia lantas berkesempatan mengisi sebuah acara di kawasan Bandung, Jawa Barat. Nasib baik seolah sedang menyebelahinya, suaranya yang merdu saat memdengdangkan sebuah lagu dangdut, membuat Muchtar B, seorang pencipta dan juga produser yang kebetulan ketika itu sedang hadir menjadi kepincut. Kemudian, wanita  yang kini kerap mengenakan kerudung itu direkrutnya untuk masuk dapur rekaman, namun sayang hasil rekamannya mengecewakan. Bahkan kasetnya saja tidak beredar di pasaran. Sungguh malang nasib penyanyi pedesaan tersebut. Rasa kecewa Evie Tamala bertambah ketika dia ditolak untuk tampil dalam acara ‘Aneka Ria Safari,’ salah satu program acara hiburan di TVRI, lantaran namanya kurang begitu komersial. “Waktu itu saya menggunakan nama Uce Arifina, karena menurut pordusernya nama tersebut kurang komersil, saya akhirnya ditolak,” ungkap wanita kelahiran Tasikmalaya 23 Juni 1969 ini. Penolakan tersebut sempat membuat hati Evie pesimis akan masa depannya yang sudah dirintis dengan susah payah. Namun sebagai orang yang pertama kali mengajak Evie masuk dapur rekaman, Muchtar B merasa bertanggung jawab.

Dukungan serta motifasi untuk tetap semangat, kemudian dia mencoba kembali. Karena kegagalan itu adalah sebuah sukses yang tertunda. Alhasil semangat yang dimiliki Evie pada tahun 1988, berhasil menelorkan album keduanya, dengan lagu ‘Tang Ting Tong Der.’ Ciptaan Muchtar B, direkam di atas pita MSC Records.

Sepertinya usaha Evie kembali sia-sia, karena dengan peluncuran album keduanya tersebut, belum juga berhasil mengangkat nama Evie Tamala di belantika musik dangdut. Setahun kemudian Evie mencoba kembali untuk meluncurkan album ketiganya dengan judul ‘Dokter Cinta.’ Hasilnya, lagu tersebut lar is di pasaran dan membuat nama Evie Tamala terkenal dimana-mana. Ada yang bilang itu karena video klipnya menyertakan Doyok yang bertingkah jenaka dengan keluwesan tubuhnya. “Saya merasa bersyukur dengan larisnya album ketiga saya, bahkan saya bisa membeli mobil dari hasil penjualanka set

tersebut. Memang semua itu membutuhkan proses, dan penuh per juangan yang mengharu birukan,” Kata si bungsu dari 6 bersaudara ini.

Kegiatan Sosial

Perjalanan karir Evie memang berlikuliku, dari mulai sebagai penyanyi kelas kampong hingga sebagai bintang dangdut papan atas. bahkan dirinya belakangan ini disebut-sebut sebagai generasi penerus dari Elvy Sukaesih, Camelia Malik maupun Rita Sugiarto. Di tengah kesuksesannya meniti karier, akhir-akhir ini ia merasa resah melihat kenyataan yang ada, bahwa musik yang telah mengharumkan namanya sedang terpuruk .

Menurutnya, sebagai salah satu faktor pemicunya merebaknya pembajakkan terhadap lagu-lagu dangdut. “Saya pr ihat in dengan pembajakkan musik yang ada d imana -mana, dan sangat meresahkan. Sepertinya para penegak hukum tidak serius dalam menangani masalah pembajakkan, para pelaku pembajakkan seharusnya ditindak dengan tegas terutama bos dan para pemi l ik modalnya. Tapi kenyataannya, mereka masih leluasa melakukan aksinya yang merugikan orang lain,” tegas penyuka warna merah itu dengan nada agak tinggi.evitamala1.jpg

Dengan kondisi dangdut yang sedang terpuruk, wanita berkulit putih ini lebih memilih menunggu hingga kondisinya membaik kembali. Ia juga tidak terlalu menggebu-gebu untuk menelorkan album baru, untuk sementara waktu. “Saya belum ada rencana untuk merilis album baru. Saat ini, saya sedang mendalami religi dan aktif dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan. Seper ti aktif di majeli ta’lim, menghadiri acara pengajian hingga menerima sumbangan untuk menghibur saudara – saudara kita yang kurang beruntung di daerah Jawa Barat,” ungkapnya. Keterlibatannya pada kegiatan social dan keagamaan, juga dilandasi oleh kesadarannya setelah bertahun-tahun menyelami dunia entertain yang penuh dengan segala macam gemerlapnya, yang kadang membuat dirinya jauh dari sang pencipta. Satu hal lagi terang Evie, kehidupannya selama ini yang bergelimang harta plus popularitas, tidaklah cukup membuat bathinnya tenteram dan damai, Dan saat itulah dirinya tersadar bahwa apa yang telah diraihnya adalah semu. “Saat ini saya lebih merasakan ketenangan dengan menghadiri acara kerohanian serta kegiatan sosial lainnya. Untuk sekarang dan ke depan, saya akan berupaya sekuat mungkin agar kegiatan panggung dan agama harus seiring dan sejalan,” pungkasnya seraya mengakhiri percakapan*Rus.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: