Blog yang Lagi Belajar

Tiga Permintaan

Posted on: October 7, 2009

3mau
Tempat tinggalnya hanya rumah bilik, yang ia bayar setiap bulannya Rp 50 ribu. Rumah itu hanya  unya tiga ruangan. Pertama kamar tidur, kedua dapur seadanya dan ketiga ruang serba guna. Ya untuk tidur anak-anaknya ketika malam tiba atau ruang tamu. Sebetulnya, Subur tak pernah punya tamu. Kontrakannya ada di sebuah gang sempit, berdempetan dengan rumah-rumah kontrakan lainnya.Tempat tinggalnya hanya rumah bilik, yang ia bayar setiap bulannya Rp 50 ribu. Rumah itu hanya  unya tiga ruangan. Pertama kamar tidur, kedua dapur seadanya dan ketiga ruang serba guna. Ya untuk tidur anak-anaknya ketika malam tiba atau ruang tamu. Sebetulnya, Subur tak pernah punya tamu. Kontrakannya ada di sebuah gang sempit, berdempetan dengan rumah-rumah kontrakan lainnya.

Di musim hujan sering kebanjiran. Subur benar-benar mencurahkan tenaga dan fikirannya hanya untuk

pekerjaan. Sampai pada satu hari, datang Tarjo seorang sahabat karibnya ke rumah. Keduanya berbincang ngalor ngidul, maklum sudah lama tidak bertemu.

Dari sekian banyak yang dibicarakan, ada satu yang berulang-ulang diutarakan Tarjo. Ia bercerita, ada seorang kawan lamanya yang memberikan sesuatu dalam bungkusan. “Saya berikan ini untukmu, tapi jangan kau buka sebelum sampai di rumah,” kata kawannya itu kepada Tarjo. Tarjo hanya mengangguk. Ia tak mengerti betul apa yang dimaksud, Joko, temannya itu. Bungkusan itu hanya berupa bungkusan biasa, terbuat dari kain batik kusam. Sampai detik ini, Tarjo tak mengerti apa isinya, karena ia belum membukanya.

Kepada Joko ia juga tak bertanya apa isi bungkusan itu, dan apa maksudnya. “Pokoknya kamu simpan saja,” tukas Joko. Pesannya, nanti setelah beberapa pecan baru boleh dibuka. Itupun harus menghubungi Joko terlebih dulu. Tarjo sebenarnya sudah lupa akan bungkusan. Sampai pada satu hari ketika istrinya bertanya,”Pak, ini bungkusan apa,” katanya ketika menemukan bungkusan itu di bawah lemari pakaian. “Ooh..itu dari Tarjo, teman lama kita.” ”Apa isinya,” lanjut sang istri. Tarjo hanya mengangkat bahu.

***

“Jadi belum kamu buka isi bungkusan itu,” tanya Subur . “Belum,” jawab Tarjo pendek sambil

meneguk air putih yang tersuguhkan. Subur mendesak agar Tarjo mau membuka bungkusan itu kelak. “Ya,”

jawab Tarjo singkat. Tarjo pun kembali ke rumah. Begitu sampai, matanya tertuju pada bungkusan

itu. Ia ingin membukanya tapi ingat pesan Tarjo. Selang beberapa hari Tarjo menemui Joko. Sesudah berbicara ringan, Tarjo bertanya soal isi bungkusan yang pernah Joko berikan. Apa sih isi bungkusan itu? Tanya Tarjo. Yang ditanya merenung sejenak. Ditatapnya mata Tarjo dalam-dalam. “Kamu ingin kaya,” tanyanya. Tarjo terheran-heran mendengar pertanyaan rekannya itu. maksudmu? Tanya Tarjo. Begini, kata Joko sambil merapatkan duduknya. Kemudian ia membisikkan sesuatu. “Ah…masa iya,” katanya heran. “Betul…coba saja,” kata Joko lagi. Subur merenung. Kemudian Joko menceritakan panjang lebar dimana

dan siapa yang memberikan bungkusan tersebut. Subur kembali ke rumah .

Sesampainya di rumah, diam-diam diambilnya bungkusan bungkusan kumal itu, sementara istrinya terlelap. Setelah diambil bungkusan itu ia bergegas ke luar kamar menuju ke ruang tamu yang dijejali anak-anaknya yang juga sudah tidur. Malam itu angin bertiup agak kencang, hujan gerimis dan bulan enggan menampakkan diri. Pelan-pelan dibukanya ikatan bungkus itu sedikit demi sedikit. Entah kebetulan, ketika bungkusan itu dibuka semakin lebar semakin besar juga angina di luar rumah bertiup. Bahkan terasa

semakin besar sehingga membuat lampu gantung di depan rumah Subur bergoyang-goyang. Ketika bungkusan itu sudah benar-benar terbuka, Subur merasa heran. Isinya cuma sebuah cakar. Setelah diamati ia mengangkat cakar itu dan digenggamnya. Tiba-tiba saja angin bertiup sangat kencang, dan cakar yang ada dalam genggamannya seperti berputar dan mengeluarkan setrum. Hampir saja cakar itu terlepas

dari genggamannya. Setelah itu diam. Subur mengamati dengan seksama ternyata cakar itu adalah cakar monyet….! Betulkah, kata Subur dalam hati. Betulkah cakar ini bisa memberikan aku kekayaan?

Ia teringat tiga hari lagi uang kontrakan rumah harus dibayar, belum lama anaknya mau sekolah. Hitunghitung biayanya Rp 120 ribu. Entah setan mana yang masuk ke benaknya. Tiba-tiba ia berkata dalam hati, wahai cakar saya perlu uang Rp 120 ribu bisakah kau memenuhinya? Begitu selesai Subur berkata,

kembali angin bertiup keras dan cakar monyet itu mengeluarkan magisnya; beputar dan menyetrum.

***

Keesokan harinya, seperti biasa anak tertua Subur bermain dekat rel kereta api dimana mereka tinggal. Di hari yang tenang itu biasa anak-anak kampong situ memang bermain di pinggir rel, yang semestinya dilarang. Mereka bermain ‘tak umpet’ dan berlari kian kemari. Asyik bermain sering anak-anak itu lupa akan

bahaya. Demikian juga anaknya Subur. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Entah dari mana muasalnya, anak Subur itu tertabrak kereta listrik yang lewat. Mukanya hancur, ia terluka parah dan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.

Singkat cerita, setelah pemakaman esok harinya malam dilakukan tahlilan. Tentangga datang dan memberikan uang duka sekedarnya. Setelah dikumpulkumpul ternyata pas Rp 120 ribu!! Subur menangis sejadinya. Ia merasa bersalah dan menyesalin dirinya. Tibatiba ia teringat dia masih punya dua permintaan lagi. Segera diambilnya bungkusan cakar monyet yang ia simpan di kolong lemari pakaian. Ia ambil

bungkus itu dan diambilnya cakar monyet itu. “Saya minta anak saya kembali,” katanya. Begitu selesai ia mengeluarkan permintaannya, kembali angin bertiup keras. Tak lama kemudian, Subur mendengar pintu rumahnya di ketuk orang. Ia tahu anaknya datang, ia akan membukanya tapi sang istri menolak. Istrinya minta ia segera mengeluarkan permintaan ketiga, yaitu anaknya kembali ke dunianya, jangan kembali ke bumi. Sebab ia tahu anaknya kembali dalam keadaan rusak, berdarah-darah akibat kecelakaan. Lagi pula dunia ini bukan lagi tempat bagi anaknya. Subur pun melontarkan permintaan ketiganya, ia ingin anaknya jangan kembali ke dunia. Angin kembali bertipu kencang dan semakin lama semakin tenang………..

Subur kapok ia telah bersekutu dengan setan, dan menempuh jalan yang salah.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: